banner 728x250
Aceh  

CUT FARAH KECAM PENEMBAKAN WARGA DI PIDIE TNI JANGAN JADIKAN SELEMBAR BENDERA ALASAN HILANGKAN NYAWA!

banner 120x600
banner 468x60

PIDIE, medanekspos.id– Insiden penembakan warga di Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Rabu (4/11/2026), menuai kecaman dari aktivis perempuan Aceh, Cut Farah. Ia menegaskan, pengibaran bendera Bulan Bintang tidak boleh dijadikan alasan untuk menggunakan kekuatan senjata hingga mengakibatkan hilangnya nyawa manusia.

Cut Farah menilai, apa pun perdebatan mengenai legalitas pengibaran bendera tersebut, persoalan itu harus diselesaikan melalui mekanisme hukum, dialog, serta pendekatan yang mengedepankan kemanusiaan, bukan dengan tindakan represif.

Menurutnya, setiap warga negara memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan atas keselamatan jiwa. Karena itu, penggunaan senjata oleh aparat hingga menyebabkan seseorang meninggal dunia harus menjadi perhatian serius dan diperiksa secara transparan.

“Jangan jadikan selembar bendera sebagai alasan untuk menghilangkan nyawa manusia. Persoalan simbol seharusnya diselesaikan melalui hukum dan dialog, bukan dengan senjata,” tegas Cut Farah.

Ia juga mempertanyakan alasan pengibaran bendera di lapangan terbuka harus dihadapi dengan kekuatan senjata. Menurutnya, konteks lokasi pengibaran perlu diperhatikan dan tidak boleh langsung dijadikan pembenaran atas tindakan yang berujung pada jatuhnya korban jiwa.

Cut Farah bahkan menilai penggunaan senjata hingga menyebabkan warga meninggal dunia merupakan tindakan yang sangat berlebihan apabila benar insiden tersebut berkaitan dengan pengibaran bendera.

“Sangat berlebihan menembak rakyat sampai meninggal hanya karena selembar bendera yang dikibarkan hanya untuk tujuan euforia semata,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia turut menyoroti dugaan bahwa peristiwa tersebut bukan merupakan baku tembak. Jika benar tidak terjadi perlawanan bersenjata dari pihak warga, maka penggunaan senjata oleh aparat harus diperiksa secara mendalam.

“Menembak orang sampai meninggal adalah kesalahan yang sangat fatal dan sangat tidak manusiawi. Apalagi dalam kondisi searah, bukan baku tembak,” tegasnya.

Cut Farah berharap insiden di Pulo Keunari tidak berhenti sebatas perdebatan mengenai pengibaran bendera. Menurutnya, hal paling mendasar yang harus diungkap adalah bagaimana kronologi kejadian, siapa yang melepaskan tembakan, serta apakah penggunaan senjata telah sesuai dengan ketentuan hukum dan prosedur yang berlaku.

Ia menilai, setiap dugaan pelanggaran yang menyebabkan hilangnya nyawa warga harus ditangani secara serius, objektif, dan terbuka agar tidak menimbulkan keresahan maupun ketidakpercayaan masyarakat terhadap aparat negara.

Publik kini menantikan penjelasan resmi dari pihak TNI dan kepolisian terkait peristiwa tersebut. Penyelidikan yang transparan, pengungkapan fakta secara utuh, serta pertanggungjawaban apabila ditemukan pelanggaran menjadi hal penting untuk memastikan keadilan bagi korban dan keluarganya.

Sebab, persoalan bendera dapat diselesaikan melalui hukum, tetapi nyawa manusia yang telah hilang tidak mungkin dikembalikan.

• Ardian)

Penulis

banner 325x300

Tinggalkan Balasan